Anak-anak Itu....Saya Banget!
Yulyani Dewi, 22 Desember 2011
Kebiasan Bimo dan Kresno protes itu adalah saya banget.
Kebiasaan Kresno yang 'nggak bisa' melihat rumah kotor hingga dia harus berjingkat-jingkat kalau melewati lantai berdebu itu adalah saya banget.
Kebiasaan Kresno tidak bisa tidur kalau kamar masih berantakan dan belum dirapikan itu adalah saya banget.
Hingga Kebiasaan pelupa Bimo sampai tingkat kecerobohannya yg sudah akut itu....juga Saya Banget...xixi.
Contoh ketika saya lupa menaruh tas, kunci mobil, hingga kunci kamar dan dengan sangat terpaksa, kami harus memanggil tukang kunci untuk membuka kamar adalah pengalaman yang diakses otak kecil Bimo dan terekam disana.
Hingga ketika Bimo meninggalkan sebagian kaus kaki, sepatu hingga sendal di sekolah dan saya 'ngamuk' karena ketidak disiplinan dia maka, kata-kata 'bijak' selalu keluar dari mulutnya hingga saya batal marah "Lha khan Aku anak Mama, jangan lupa Ma...!", sambil mengedipkan mata. Kalau sudah begitu serasa di 'tohok' saya ini...karena langsung melayang satu kalimat eksplisit "Like Mother like Son-lalalalala". .... Ha ha ha ha ha "Emang enak!!!" :p. Kapokmu kapan (kata orang Jawa -Inggris) hehe.
Pribahasa ini lazim digunakan untuk seorang ayah, namun pada prakteknya, Ibu yang lebih sering berinteraksi dengan anak-anaknya di rumah ketimbang ayah, lebih pantas memiliki pribahasa terebut ketimbang seorang ayah, Karena sering kali kita mendapati anak melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Hingga kebiasaan ini lantas direkam oleh otak bawah sadarnya hingga kemudian 'copy paste'
Maka layaklah kita percaya sebuah slogan yang mengatakan 'Ibu adalah madrasah pertama' tempat anak menimba ilmu, memperoleh pencerahan, hingga suri tauladan.
Apa yang kita lakukan adalah cermin bagi anak-anak walau kadang kita tidak pernah menyadarinya. Hingga saya percaya bahwa seorang "Ibu yang kuat" akan mampu menanamkan karakter-karakter kuat dalam diri seorang anak.
Jika Ibu suri tauladan, maka langkah-langkah yang mengiringinya harus penuh kehati-hatian. Karena Ibu sebagai tumpuan, bukan seorang ayah. Karena Ayah Indonesia, cenderung hanya memiliki tugas eksternal untuk memberikan pengayoman, perlindungan, hingga menghidupi keluarganya. Ketika seorang ayah meninggalkan rumah untuk bekerja ia di bebas tugaskan pada urusan domestik rumah tangganya.
Beda dengan seorang Ibu, sesibuk apapun dirinya dia tidak pernah lepas dari urusan domestik rumah tangga. Ketika Ibu bekerja sekalipun, untuk bisa menyeimbangkan antara kepentingan rumah dan kantor dia terkadang mau tidak mau harus bisa memanage stressnya.
Apalagi jika pekerjaan kantor sedang menumpuk dan jadi tanggung jawabnya sedang dilain sisi anak sakit di rumah, maka 'the extra ordinary's Woman needed here'.
Karena begitu pentingnya peran Ibu membentuk karakter seorang anak, seorang Ibu harus mempunyai jiwa sekaligus fisik yang sehat. Keluhan hanya akan melemahkan sisi kekuatan seorang perempuan yang bertugas ganda sebagai Ibu, Guru, dan juga Motivator.
Suatu hari 'patner kerja' saya di rumah mengeluh sakit tapi dia malas berobat, padahal dialah satu-satunya tulang punggung keluarga. Mengingat suaminya telah almarhum. Dan anak semata wayangnya butuh di beri makan dan di sekolahkan, saya mendengar semua alasan kenapa dia enggan berobat dan hidup sehat. Saya hanya memberikan masukan kepada dia akan 2 hal penting dalam hidupnya :
1. Bahwa Dia seorang Ibu dan seorang Ibu. Harus sehat demi anak-anaknya. Kalau tidak mau sehat dan terus mengeluh berarti dia egois.
2. Bahwa jika dia tidak ada dia, siapa yang akan menopang kehidupan anaknya?, maka seorang ibu tidak boleh MANJA. Rasa manja tidak akan pernah bisa menyelesaikan suatu persoalan.
Karena tidak ada satupun yang bisa menggantikan peran seorang ibu.
2 hal ini yang saya inginkan untuk mendorong perempuan yang telah mendapat julukan istimewa 'Ibu' untuk tidak pernah ada kata 'menyerah' dalam hidupnya, agar mereka terdorong tidak menjadi 'egois' melihat dirinya sendiri, melainkan juga gerbong yang mereka bawa yaitu 'anak-anak' karena mereka adalah manifestasi pencitraan seorang Ibu.
Anak-anak di didik dari rahim oleh seorang Ibu, dan Ibu adalah madrasah pertama tempatnya menimba Ilmu, sesibuk apapun dirinya. Anak-anak membawa karakter kita didalamnya. Maka jangan Manjakan dirimu Ibu dengan berbagai hal yang meninabobokan kekuatan yang dianugrahkan Tuhan dan Alam, yang menyatu dalam dirimu
Anak-anak dalam asuhan ibu yang sehat secara jasmani dan ruhani akan menjadi anak-anak yang sehat pula. Maka pentingnya kita-kita sebagai ibu untuk bisa memanage stress, mengendalikan emosi, menentramkan jiwa, hingga membuang persoalan-persoalan yang menghambat pengembangan karakter kita.
Pendeknya dengan sangat menyesal saya harus katakan Ibu harus menyerupai malaikat dalam pikiran anak-anaknya, membuat mereka percaya diri, tanpa cacat dan kuat. Karena Ibu sumber inspirasi.
Untuk jutaan ibu-ibu dan calon ibu di dunia.
Bahwa kita harus mengingat, kita mengandung, mendidik, dan membawa generasi-generasi nuklir yang akan memimpin bangsanya.
Apakah dia menjadi pemimpin yang baik secara moral dan benar dengan karakter-karakter yang kita bangun....
Ibu adalah goresan pertama di lembar putih. Goresan pena inilah yang akan membawa Mereka menjadi manusia-manusia bijak, mandiri, kuat dan tidak pernah mengeluh.
Dan diantara banyak kekurangan, kami (Ibu-ibumu) hanya ingin kau (anak-anak kami) memahami. Ibu juga tetap manusia, yang kadang lemah dan terseok-seok ditepian iman, atau menangis untuk bisa mengumpulkan kekuatannya kembali...
Maka selamat hari ibu "BUNDA" , pada ketegaran dan seluruh kekuatanmu menjalani hidup yang luar biasa....kami mendorongmu untuk tidak pernah mengenal kata menyerah.
Karena sudah tidak ada tembok lagi dibatas khayalmu, apapun itu kamulah yang mampu menerjangnya demi anak-anak dibelakangmu yang melihat kiprahmu secara nyata....salam Semangat...Ibu...kamu pasti bisa ;)