| |
 | | Jul 2, 2007 |
TERTAWANKU DIMATA HATIMU BERSAMAMU MENGURAI MIMPI....................................... Welcome to joint me and share your experience about everything. I has been learning more about Islam. If you have a good suggestion It will be pleasure to hear and make a rigth relationship to keep in touch on silaturachim. Amien. Be nice, be a good person and be Positive. Incrase your self more and more for being one person who has a good manner. Insyaallah..... You also can add me to be your contact with my ID : java_angel_07@yahoo.co.id
PADA-MU, AKU MENGADU By Dewi 1 September 2008 Ya Allah, bisakah aku berdamai dengan hatiku ? Kala senja menyurak pilu Mampukah aku….. Ya Allah menjadi seikhlas mentari Yang menyinari tanpa pamrih Yang memberi tanpa mengharap balas Ya Allah, mampukah aku menahan perih Kala lara begitu menyiksa Menggores sejuta luka Yang harus kutanggung dalam sunyi Ya Allah, Mampukah aku mencapai ridha-Mu Dalam genangan darah yang menganak sungai Dalam derai air mata tak terhenti Dalam pilu yang menyayat Dalam gundah tak menepi. Ya Allah, Hanya dengan Ridho-Mu aku mampu Menyambut fajar dengan senyuman Sekalipun aku terpenjara dalam duka Menatap wajah-Mu di sudut sujudku. Menuju jalan Ikhlas yang berliku Ya Allah, sabarkanlah Aku Masukkan aku dalam surga-Mu dari pintu mana yang aku suka. Amien.
  DISUDUT TIKUNGAN JALAN MENUJU KANTOR Yulyani Dewi, 27 Agustus 2008
Siang ini sengaja datang terlambat ke kantor, setelah pencet sana pencet sini meng-sms beberapa rekan dan bos, untuk minta ijin datang siang, karena perut tidak bisa diajak kompromi dan kepala sedikit pening, akibat lembur hingga pukul 10.00 pada malam sebelumnya. Sedang asyik-asyiknya menyetir mobil, dalam antrian macet yang panjang, arah tikungan jalan menuju kantor, dengan satu kaki menginjak rem sedang satu yang lainya menghandle kopling. Kali ini mobil berhenti agak lama tepat ditengah menuju tikungan itu. Sebuah mobil yang berada tepat di belakang mobil yang ada di ujung tikungan yang bikin macet karena kelamaan mikir untuk menyebrang, rupanya sudah tak mampu menahan kesabaran, atas kemacetan panjang hingga 30 menitan itu, membunyikan klakson panjang berulang-ulang, hingga kemudian seorang cowok tinggi atletis yang lumayan tampan, membuka pintu mobilnya bergerak menuju kearah mobil dudul yang berada didepannya, dengan ekspresi kesal bercampur keringat. Dengan kasar cowok itu menggedor kaca mobil didepannya beberapa kali, sedetik kemudian, si pemilik mobil menurunkan kaca spion, perlahan-lahan sosok wajah wanita cantik nan anggun, tersembul sambil tersenyum meringis, lamat-lamat terdengar kalimat dari suaranya yang merdu dan terdengar di telinga saya yang berada tepat dibelakang mobil cowok tadi. “Aduh….sorry mas, aku masih baru belajaran nih, ngeri mau nyebrang, gimana nih….!,” kata wanita itu sambil berekspresi memelas, cowok yang emosinya sedang naik tadi tiba-tiba mengendur demi melihat wajah cantik bersuara merdu milik si cewek . “Huh…dasar cowok…!”, guman saya pelan sambil mengulum senyum, tiba-tiba tanpa ba-bi bu cowok itu membuka pintu, seperti layaknya adegan di sinetron-sinetron lokal Indoensia, si Cowok dengan sok gagahnya membantu menyeberangkan mobil si cewek tadi. Setelelahnya antrian macet yang panjang segera mencair, dan tampak dari spion, saya melihat satu lagi adegan romantis, perkenalan hangat antara si cowok dan si cewek di pinggir jalan beberapa meter dari tempat itu. Duh…romantisnya, batin saya tapi, Eits…..jam sudah tak bersahabat untuk saya hari ini, “Aduuuuuuh…..Mak, saya terlambat…..!”
ANAK ADALAH TITIPANNYA By Dewi, 20 Agustus 2008 Pernah dengar istilah bahwa “ Anak adalah titipan”, titipan yang dimaksud disini adalah titipan dari Allah SWT, titipan yang harus kita jaga, rawat, dan juga pelihara dengan sebaik-baiknya. Jika anak adalah titipan Allah, maka pantas tidak ?, jika kita titipkan lagi? Terlepas dari sanggup dan tidak sanggup kita memeliharanya. Sebut saja seorang anak teman bernama Rina, karena dititipkan ke budhenya, mengingat keluarga kandungnya tidak sanggup membiayai hidup dan pendidikannya. Baru berumur 4 tahun ketika Rina dititipkan kepada Budhenya waktu itu, mengingat si Budhe tidak kunjung dikaruniai anak dari rahimnya sendiri. Si Rina manjadi anak yang paling disayang dan dimanja karena hanya satu-satunya. Ketika Rina sudah dewasa, dan mungkin karena salah asuhan, Rina menjadi anak yang semau gue, cuek, dan tidak ada tanggung jawab, Si Budhe dan Pakde yang sibuk berkerja, hanya menitipkan Rina pada pembantu rumah tangganya, yang tanpa sepengetahuan mereka sering menyewa film-film porno. Alhasil, Rina yang sudah punya pacar sejak SMP kelas 3 harus drop out dari sekolah karena hamil diluar nikah dan akhirnya harus menikah diusia muda. Singkat cerita pernikahan ini tidak bahagia, dan akhirnya mereka bercerai, sekarang Rina mengungsi ke rumah orang tua kandungnya, sampai disana orang tua kandungnya merasa kwalahan karena ternyata si Rina ini bandelnya tidak ketulungan, hingga akhirnya hamil lagi dengan yang lain. Setelah berembug antara keluarga si Budhe dan juga orang tua kandungnya mereka mengajak Rina berbicara dari hati ke hati, maksud baik orang tua sayangnya tidak ditanggapi sama oleh Rina, dia tiba-tiba menjerit-jerit histeris, ternyata usut punya usut si Rina ini merasa merana, kesepian, dan menyalahkan orang tua kandungnya, kenapa harus menitipkan Rina pada orang lain. Kenapa harus dia yang dititipkan kepada orang lain bukan salah satu dari ke empat adiknya atau kakaknya. Demikian tuntut Rina pada orang tua kandungnya, kemudian kata Rina lagi dia tidak pernah merasa bahagia hidup bersama Budhe dan Pakdenya yang sama-sama sibuk, karena Rina hanya dimanja dengan uang dan tidak diberikan pengarahan yang sesuai dengan usianya, Rina merasa diabaikan, dicampakkan, dan di anak tirikan karena harus keluar dari rumah orang tuanya dan tinggal dengan keluarga lainnya sekalipun itu budhenya sendiri. Masyaallah, itulah perasaan yang pernah saya rasakan walaupun tidak separah Rina, ketika suatu saat orang tua saya, pernah menitipkan saya di rumah tante. Waktu itu saya duduk di bangku kelas 1 SMA hingga kuliah di perguruan tinggi, tanpa diberikan alasan yang jelas. Yah, walaupun jarak rumahnya hanya beberapa puluh kilometer dari rumah tapi perasaan diabaikan, dicampakkan, dan dianak tirikan lekat saya rasakan, hingga pertama kali tinggal dirumah tante, seharian saya menangis. Perasaan inilah yang menjadikan saya trauma untuk menitipkan anak kerumah saudara, orang tua, atau mertua saya. Sekalipun kami (suami dan saya) super sibuk. Hingga kemudian kami (suami dan saya) membuat kesepakatan, bahwa walau apapun yang terjadi, misal kesulitan ekonomi atau kesibukan yang berantai dan padat, anak-anak harus tetap berada dekat disamping kami, sampai mereka nanti mampu berdikari atau berkeluarga. Dalam bayangan kami alangkah indahnya ketika kami pulang ke rumah, sambil melepas penat, kami disambut oleh senyum dan tawa ceria mereka. Oleh karena itu biarpun si sulung kami, Bimo, sudah punya kamar sendiri, kami masih sering tidur bersama-sama dengan si kecil Kresno juga, untuk menukar ketiadaan kami, selama kami berada di luar rumah. Kondisi kantor saya yang super sibuk, rupanya membuat dua orang rekan kerja wanita saya, harus jauh menitipkan anak-anaknya, pada orang tuanya masing-masing di desa, dari sisi psikis saja saya melihat mereka seperti orang linglung ketika pertama kali ditinggal anaknya, ada perasaan bersalah diwajah mereka. Namun lama-kelamaan seiring dengan waktu dan kesibukan yang semakin membelenggu sedikit demi sedikit rasa bersalah itu terkikis hingga kemudian perasaan mereka jadi biasa-biasa saja. Dalam hati kembali saya miris, demikiankah perasaan orang tua saya dulu ketika menitipkan saya di rumah tante selama bertahun-tahun atau inikah perasaan ibu-ibu yang pernah menitipkan anaknya pada orang lain. Allahualam bisawab. Menarik garis besar dari sekian hal tentang penitipan anak, saya jadi teringat peristiwa satu tahun yang lalu ketika seorang teman menelpon suami “Bang, anak saya meninggal dunia, saya ijin tidak masuk hari ini”, katanya di telepon pagi itu. Suami menyahut keras waktu itu “ Innalillahi Waina Ilaihi Rojiun” Setelahnya saya yang diberitahu suami, bergegas berkemas untuk segera pergi melayat ketempat teman tersebut bersama suami. Setelah berada disana, mata saya terpaku pada pemandangan sekumpulan ibu-ibu yang sibuk menenangkan insiden kecil disudut ruangan tempat mayat si anak ditidurkan untuk kemudian dishalati. Saya melihat Wati, Istri Surya teman suami itu menangis dipojok ruangan, sedang seorang wanita disampingnya sibuk menenangkannya sambil ikut menangis sesunggukan, berkali-kali keluar kata-kata dari mulut Wati “ Maafkan aku mbak….hhuhuhuuuu maafkan aku !”. “ Bukan-bukan salahmu Wati, semua salahku, salahku Wati yang menitipkan anak pada yang lain !”, tiba-tiba jerit wanita disebelah Wati memecah tangis Wati. Sedetik kemudian tangis keras kedua wanita itu tak dapat terbendung, keduanya menangis sambil berangkulan. Sementara ibu-ibu disekeliling mereka sibuk menenangkan sambil melafal Istigfar berkali-kali. Sedang Surya teman suami, tampak lunglai disudut ruang yang lain sibuk menghisap rokoknya dalam-dalam sementara beberapa tetangga dan keluarganya mulai tampak sibuk menyiapkan pemandian si mayat. Setelah beberapa saat tahulah saya siapa wanita disebelahnya itu. Dia adalah Ibu kandung Rizki, anak yang meninggal, karena keteledoran orang tua asuhnya yaitu istri teman sang suami itu, si Anak yang sedang senang-senangnya bermain hujan-hujannan dibiarkan bermain di luar rumah, orang tua asuhnya lupa jika disekitar rumahnya ada kali kecil yang alirannya deras apalagi ketika hujan, dan si Rizki yang tidak bisa berenang, tercebur ke dalam sungai kecil itu hingga tenggelam dan meninggal. Musibah ini semakin membuat saya miris untuk menitipkan anak pada siapapun sekalipun dalam kondisi terjepit Inshaallah. Padahal beberapa hari sebelumnya ada keinginan saya untuk menitipkan si Sulung Bimo pada Ibu, karena ketika saya hamil bermasalah (sakit dan pendarahan selama 9 bulan), saya terlanjur menyekolahkan Bimo (yang ketika itu masih TKB) di dekat rumah Ibu saya di Jakarta. Untung saja suami sangat menentang ide saya ini, berusaha mengingatkan kembali perasaan saya ketika saya dititipkan sekalipun pada keluarga dekat saya sendiri. Dari sekian cerita ini mungkin dapat saya tarik hikmah bahwa anak adalah titipan-Nya, maka kewajiban kita menjaga, merawat, dan memberikan yang terbaik kepadanya hingga Sang Penitip Tunggal yaitu Allah SWT mengambilnya kembali. Kemampuan kita memelihara titipan dan juga keikhlasan kita memberikan segenap kasih sayang yang kita miliki kepada seorang Anak saya yakin akan di catat oleh Allah SWT, dan akan menjadikannya sebagai tabungan amal. Jika ada terbesit keinginan untuk menitipkan anak maka ingatkanlah diri kita betapa banyaknya orang yang belum mendapatkan kesempatan untuk memperoleh anak, begitu mendambakannya, sedangkan kita yang dipermudah malah berkeinginan untuk memindahtangankan titipannya Naudzubilah himindzalik. Mudah-mudahan kita selalu diberikan kemudahan dalam beramal, bersyukur, bertakwa kepada-Nya, dan menjadikan Anak sebagai langkah menuju Surga-Nya. Amien.
Pekikkan …… MERDEKA…! By dewi, 19 Agustus 2008 Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Itu fakta dan sejarah yang harus kita hormati dan junjung tinggi. Terlepas dari cemoohan bahwa kemerdekaan yang hakiki belum dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Untuk itulah kita harus membangun image yang positif, apalagi jika kita adalah kaum terpelajar, image positif yang harus dibangun adalah membentuk pola pikir yang sama, bahwa kemerdekaan yang sudah diraih oleh bangsa Indonesia adalah hasil perjuangan dan pengorbanan yang berdarah-darah, tanpa bisa kita pungkiri. Menyia-nyiakan apa yang sudah diraih terlebih tidak menghargai apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan di medan perang sama dengan dosa besar. Sinisme yang terjadi saat ini adalah bukan karena kita belum merdeka, melainkan pola pikir negatiflah yang membuat kita merasa kita belum merdeka, merasa terjajah. Dan merubah pola pikir ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ketenangan berpikir dan juga kematangan pribadi. Pada kenyataannya kematangan berpikir dalam arti berpikir bijak memang belum merata pada bangsa ini, untuk itu peran motivator lewat tulisan atau karya anak bangsa serta membuat gerakan serentak untuk kembali menanamkan rasa cinta yang mendalam pada tanah air atau gerakan nasionalisme perlu kembali di gaungkan. Kemerdekaan sudah menjadi milik kita tapi, rasa nasionalismelah yang sekarang sudah mulai kedodoran disana-sini, hilangnya rasa nasionalisme akan membuat sebuah lubang besar pada bangsa ini dan menjadi momentum bagi penjajahan dalam bentuk lain untuk masuk kedalam. Membangkitkan nasionalisme dalam diri dan pribadi bangsa kita adalah bentuk perjuangan yang lain, satu dari bentuk perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Jika kita masih merasa belum merdeka maka kita harus berjuang memerdekakan diri kita dengan meniru semangat perjuangan para pahlawan-pahlawan bangsa yang gugur dimedan laga. Semangat dan pekik merdeka harus selalu kita gaungkan disetiap langkah dan setiap saat dalam hati dan sanubari. Misal bila kita ingin terbebas dari kemiskinan maka kita harus berusaha sekuat tenaga, kreatif, dan juga cerdik membaca peluang, bagi yang sudah terbebas jangan pernah melupakan nilai perjuangan menuju kebebasannya, maka tidak ada salahnya menjadi pahlawan bagi orang lain yang masih terbelenggu dalam kemiskinan, maka makna kemerdekaan yang hakiki akan semakin terasa dengan mencoba berbagi dan menolong sesama. Kemudian bagi yang merasa gagal, jangan pernah merasa putus asa, jika ingat perjuangan pahlawan bangsa yang hanya bersenjatakan apa adanya, maka kita akan percaya bahwa semua yang mustahil pasti bisa menjadi mungkin jika diiringi dengan kerja keras tak kenal menyerah dan juga doa. Kata Ali bin Abi Thalib RA. tiga pintu kebajikan menuju manusia merdeka adalah : pemurah dalam harta, baik dalam berkata, dan sabar dalam derita. Dan dengan mengembangkan pola pikir positif dalam diri sendiri kemudian menularkannya pada keluarga, saudara, tetangga, dan juga masyarakat sekitar, maka inshaallah kita akan menebarkan pekik kemerdekaan dimana-mana, sehingga kita dapat meneriakkan kemerdekaan sekeras-kerasnya, sebelum pekik itu dilarang oleh UU untuk diteriakkan ^_^\/ MERDEKA…MERDEKA….MERDEKA..AYO MERDEKA !
Etika perlukah ? By Dewi, 11 Agustus 2008 “You know Dewi, one of the disgusting thing at Indonesia is the protocol. It is so stiff”, begitulah kata sepupu ipar saya. Loh apa di Inggris negeri ibunya, tidak seperti itu etikanya, padahal kita banyak mengadopsi etika keprotokoleran, dari sana ?, pikir saya waktu itu. Kata saya kemudian “ We adopt this culture from your country”. “Yes, but it doesn’t too stiff like here”, timpal sepupu ipar saya itu. Setelah mendengar kalimatnya saya tersenyum sendiri, batin saya “Owalah, jadi selama ini keprotokoleran yang ada di Indonesia ini, rupanya terpengaruh budaya feodal, bukan kolonial” hehehe. Yang jadi pertanyaan saya sekarang. Benarkah keprotokoleran yang ada di Indonesia sedemikian parahnya? Alih-alih protokoler kok jadinya makin mirip birokrasi, walah Negara ga bakal maju-maju kalo birokrasi teralu berbelit. Etika Birokrasi Ingat Iklan rokok, yang pernah bikin kita geli, ketika disana diperlihatkan bagimana proses kepengurusan surat atau dokumen penting, dalam iklan tersebut kelihatan sekali bagimanakah proses birokrasi berlangsung sangat menyebalkan dan lambat, ketika kita berada di meja satu kita masih harus dilempar ke meja dua, dari meja dua ke meja tiga, dari meja tiga ke meja satu lagi untuk kemudian kembali ke meja dua, baru kemudian balik ke meja empat. Kecuali ada pelicin, atau bahasa kerennya uang sogokan, makanya dibagian akhir iklan disebutkan “ Kenapa harus begini?” That is the really happen at Indonesia. Ada lagi iklan terbaru milik Kentucky yang bintang iklannya, Tike “Extravaganza” ketika duduk di meja birokrat, tiba-tiba dia mengeluarkan 1 paket penuh ayam goreng “Fried Chicken” lihat label iklannya, “Lihatkan !, dengan Kentucky semua masalah bisa teratasi”, kalo lihat sepintas iklan tersebut terkesan lucu, tapi jika dicermati, ini benar-benar pelecehan, dan penggambaran gamblang, seperti woro-woro/informasi “ Beginilah para birokrat bekerja, jika ingin lancar etiketnya ya beri dulu pelicin dulu”, hehehe (ups…maaf jika agak kasar !) tapi beginilah gaya sebagian besar para birokrat kita berkerja. Kejadian dapat kita rasakan hingga sekarang, sekalipun pemerintah berupaya keras membenahi atau bahkan memotong jalur birokrasi, melakukan efisiensi di tiap departemen. Tetap saja yang namanya etika birokrasi harus dilalui. Etika dalam hal ini adalah tata cara yang harus dilakukan untuk sampai pada tujuan. Jika dalam Agama kita selalu diajarkan untuk tidak mempersulit orang lain, dengan alasan apapun, maka dalam pemerintahan, yang dalam hal ini adalah dunia birokrasi, alasan tersebut menjadi mentah. Bagaimana kita tidak mempersulit orang lain, kalau dalam lingkungan birokrat, mau bertemu dengan pimpinan saja, yang hanya sekedar untuk membicarakan sesuatu saja harus melalui jalan yang berliku, harus melalui resepsionis, kemudian ke adjudannya, ke kasubagnya, dsb. Padahal permaslahan yang akan kita bahas atau kita mintakan pertolongannya belum tentu selesai begitu saja, tanpa harus melewati birokrat-birokrat lain yang ada diatasnya. Contoh lain adalah masalah haji dan TKW, beberapa buku yang sempat saya baca, dan hasil browsing saya di Internet maka saya ketahui bahwa ternyata, yang menghambat terselesaikannya semua masalah adalah jalur birokrasi ini. Kadang Menterinya tidak bermain tapi yang bermain orang dibawahnya dirjen atau juga deputinya. Lain lagi dengan kasus yang dulu sempat santer, anak seorang pemulung yang asli Bogor, karena tidak punya kartu Taskin, anaknya yang sedang sekarat dan dibawa diatas gerobak dorongnya harus menderita karena kesulitan mendapatkan pengobatan yang layak dan gratis, akhirnya anak tersebut meninggal. Masalah belum lagi usai menimpanya, tiba-tiba saja dia harus dihadapkan pada tuduhan pembunuhan anaknya sendiri oleh polisi, dia disidik dan anaknya divisum. Wuih…pokoknya jika menyinggung masalah birokrasi ini, maka rambut di kepala yang subur bisa jadi botak hehehe. Lalu kapankah birokrasi negeri ini berpihak pada rakyat kecil yang miskin lagi lemah, hingga tidak ada kekuatan untuk merubah nasibnya, karena etika birokrasi tersebut ?. Etika dalam Masyarakat Walaupun etika berbelit dalam birokrasi harus dihapus, tapi etika dalam bermasyarakat saya kira masih harus tetap ada. Etika yang membawa kita pada keharmonisan hidup bertetangga, berteman, bersahabat, dan berkeluarga. Etika yang harus dibangun dalam diri sedari kita kecil agar kita terbiasa membatasi diri, bahwa dengan etika ini kita menyadari bahwa kita memiliki hak sekaligus kewajiban, dan hak kita dibatasi oleh jutaan hak orang-orang yang lain. Dengan Etika juga Umar bin Abdul Aziz, mematikan lampu minyaknya ketika dia kedatangan salah seorang saudara untuk membicarakan masalah pribadi dan bukan masalah negara, sehingga lampu minyak yang dibiayai oleh uang Negara dia matikan karena dia memiliki etika bahwa barang milik Negara, hanya khusus digunakan untuk melayani kepentingan rakyat bukan pribadi. So amazing, doesn’t He?. Andaikata birokrat kita, belajar lebih banyak tentang etika bermasyarakat bukan hanya etika birokrat. Tentunya kondisi perekonomian negara tidak akan sepelik ini. “Mengutamakan kepentingan rakyat jauh diatas kepentingan pribadi atau golongan”, adalah sebuah slogan andal dan jika kita menerapkan apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz tentunya kalimat ini bukan hanya menjadi slogan. Tapi juga bisa menjadi nurani para birokrat negeri ini. Namun sampai kapan etika yang benar, itu bisa kita rasakan ?????????? Jawabanya ada pada hati kita masing-masing, setidaknya yang sudah berada di dalam lingkungan pemerintahan ayolah kita berbenah dari diri kita sendiri, dengan membiasakan untuk tidak mempersulit orang lain. Setuju…?????! SIIIIPPPPP!
Batas Kekuatan Wanita By. Dewi 1 Agustus 2008 Seindah Cakrawala Kiprahmu Gemulai Membuai Sang Mentari Lekuk Indah Panorama Wajahmu Secermelang Pesona Sang Bintang Sejauh Langkah Dan Mata Memandang Gelora Semangat Yang Menggebu Mengikuti Keinginan Atas Pengakuan Pada Keberadaan Sosok Lembut Nan Perkasa Wanita ….. Sekuat Tenaga Engkau Bergerak Langkahmu Tetap Tertahan, Dalam Belenggu Raga Kelemahan Dan Kekuatan Yang Terbatas Membawamu Berhenti Pada Satu Titik Persinggahan Dimana Lelah Membawamu. Seperti Garis Katulistiwa Yang Memahami Akan Perbedaan Musim Berganti Pada Saatnya Maka Kebijakan Dirimulah Penentu….. Pada Kekuatan Yang Hakiki. Fitrah Wanita Harapkanlah Kerendahan Hati bukan kesombongan diri Biarkanlah perbedaan berbicara Bahwa Pria dan wanita Sepanjang dan sekuat apapun, tetap berbeda Dalam perbedaan itulah Tuhan menciptakan cinta Agar mereka saling mengisi dan menutup ruang kosong dalam perbedaan Bukan kesamaan…. Cinta, kasih sayang, kelembutan, dan juga keberanian wanita, adalah modal baginya untuk berjuang meraih haknya sebagai wanita. Hak wanita adalah untuk dilindungi, dihormati, dan diberikan penghargaan atas keberadaannnya dan eksistensi dirinya. Bukan untuk disamakan dan dibandingkan dengan laki-laki, karena bagaimanapun, Allah SWT menciptakan makhluknya dalam dua jenis yang berbeda, juga dalam kekuatan yang berbeda. Wanita hingga kapanpun tidak akan bisa sama dengan laki-laki terutama dalam hal fisik, wanita diakui ataupun tidak memiliki keterbatasan, yaitu lebih lemah fisiknya dibanding laki-laki, walaupun wanita memiliki ketahanan jauh lebih besar dibanding laki-laki dalam hal menahan penderitaan, J dan ini juga kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Wanita jauh lebih banyak mengalami cobaan hidup akan tetapI kuat menahan, walaupun secara logika kekuatan fisiknya jauh lebih lemah dibanding laki-laki. Untuk itu kesadaran akan keterbatasan ini harusnya mengingatkan kembali wanita akan kodratnya berada di dunia ini. Seperti cerita dua hari kemarin, ketika seorang Istri salah satu bos, sebut saja si Ulim, tergeletak lemah tak berdaya, disebuah rumah sakit dekat kantor. Entah dimulai dari mana cerita tiba-tiba bergulir dari seorang kawan dekat si Ulim, dia bercerita, konon kabarnya wanita ini, jauh lebih sukses meniti karier dibanding suaminya, tapi naudzubilah himindzalik karena hal itulah, wanita ini tidak pernah menghargai suaminya. Hingga pada suatu kesempatan, ketika kesehatannya menurun, dia juga enggan meminta tolong suaminya untuk sekedar meminta ijin pada atasannya. Alhasil, dengan keadaan yang sudah drop ini, dia harus mewakili kantor tempatnya bekerja, menyebrang ribuan pulau, atau lebih tepatnya nekat berangkat ke sana demi mengejar kariernya. Sampai disana karena dia yang tidak menyadari kelemahannya sebagai wanita, yang harus terus menerus bersaing dengan laki-laki, tak terkecuali suaminya, sampai ada saat kesombongan meruntuhkannya. Wanita ini tiba-tiba pingsan di sana, dan harus diboyong ke Surabaya untuk dirawat. Sampai di Surabaya, kondisinya tak kunjung membaik bahkan lebih parah lagi, hingga suami dan anak-anak yang dulu sering diabaikannya menjaganya siang dan malam, karena badannya lemas dan lemah hingga untuk makanpun harus disuap di atas ranjang. Ketika kami (saya bersama teman-teman wanita satu kantor) membesuknya, dengan mengenakan seragam kantor karena kami memang sedang bertugas dan menyempatkan waktu sejenak. Tiba-tiba tangannya mengenggam salah satu rekan kerja saya, dan menangis sesunggukan di tangannya, sambil berkali-kali meminta maaf. Entah apa yang perlu dimaafkan, dan pelan tapi jelas kami mendengar dari mulutnya, “ Kembalilah kepada kodrat sebagai wanita, kembalilah kepada kodrat sebagai wanita”. Saat itu Kami, belum bisa mencerna kata-katanya hingga ketika berada di dalam mobil di perjalanan kembali menuju kantor, barulah kami tahu maksudnya, sekuat-kuat wanita dan sejauh apapun langkahnya meninggalkan laki-laki, wanita tetap tidak bisa mengalahkan kodratnya yang telah digariskan oleh Ilahi. Allahuakbar !. Merenung Dalam Kesunyian Tiga minggu yang lalu, saya begitu giat bekerja, membanting tulang bergerak kesana kemari, entah apa yang saya kejar, hingga salah seorang kawan, menjuluki saya workalcoholic, atau gila kerja. Awalnya saya tidak ambil pusing, hingga saya lupa atau sengaja lupa jika saya hamil. Sibuk mengejar materi, dan kesombongan bahwa saya merasa mampu dan dibutuhkan. Sampai anak-anak jadi korbannya termasuk janin yang ada dalam kandungan saya, hingga saya harus menyerah pada kondisi fisik yang lemah dan menyadari saya hanyalah seorang wanita. Sejauh saya melangkah disana ada suami dan anak-anak yang harus saya fikirkan kesehatan dan juga kondisi psikisnya. Dan suatu saat, ada orang baru datang jauh lebih mampu dan jauh lebih gila dari pada saya. Kemudian orang itu begitu saja mengganti tempat yang dulu pernah saya raih. Allahuakbar !, teguran Allah ini sangat menyakitkan dan membuat saya limbung, tapi saya sangat bahagia kini setelah saya menyadari, Allah SWT begitu menyayangi saya, memberikan teguran pada saat dan tempat yang tepat. Disaat saya membutuhkan dan tepat menghujam nurani saya sebagai seorang Ibu. Alhamdulillah peringatan Allah ini membuat saya sibuk berbenah, kembali memperhatikan suami dan anak-anak, yang ketika saya khilaf dulu, si sulung terlalu asyik dengan mainan di Komputer dan PSnya, hingga nilai berhitungnya anjlok dari excellent ke very good, dan si bungsu jadi lebih sering berteriak-teriak ketika marah, yang semula sangat jarang dilakukannya, maka kesempatan ini saya manfaatkan untuk menguatkan psikis anak-anak yang kebutuhan akan kehadiran saya selama ini kurang terpenuhi. Biarlah semua jirih payah saya selama ini di kantor hilang dari genggaman, karena saya yakin Allah sudah memberikan yang terbaik kepada saya yaitu suami dan anak-anak yang barokah, sehat, dan cerdas. “Lalu kenikmatan Allah manakah yang saya dustakan?” Begitupun suami yang walaupun tidak pernah menegur, kelihatan lebih gembira dan tidak uring-uringan lagi, Alhamdulillah, sejak kemarin ketika dia mencicipi kembali masakan Istrinya, yang walaupun saya yakin rasanya masih amburadul, karena baru kemarin saya mulai kembali mengasah kemampuan memasak saya, setelah sekian lama terlupa. Masyaallah ! Nah, jika fisik bukan merupakan batas kekuatan wanita, maka keluargalah yang menjadi batasnya, sejauh kaki melangkah seorang Ibu hanya mampu mengerakkan satu kakinya sedang satu kaki yang lainnya masih tertahan di rumahnya. Dan tempat yang paling nyaman untuk seorang Ibu adalah disisi keluarganya…bukan begitu? Diakui ataupun tidak wanita dengan keterbatasan fisiknya dan perasaannya pasti mendambakan penopang dalam hidupnya, sekuat-kuatnya wanita, kodratlah yang sebenarnya penyempurna kewanitaannya.
Catatan Kehamilan ketiga (part III), Ketika Aku kehilanganmu by yulyani dewi, 16 juli 2008 Berbagai usaha sudah kutempuh, Kasih Dan Ku yakin, engkau juga merasakannya. Namun rupanya, engkau masih ragu Kasih, tuk memilihku Menjadi tempat berlindungmu. ………….Aku Ikhlas-kan dia, Ya Allah. Kukembalikan dia kembali ke pangkuan-Mu. Hari itu Rabu, 9 Juli 2008 Hasil USG dalam, begitu mengejutkan, membuat saya semakin tegang setelah menunggu, penuh harap cemas. “Kantung kehamilan masih ada, Bu, tapi sudah berbentuk memanjang, arah-arahnya menuju jalan kelahiran”, kata dokter sambil memperhatikan raut wajah saya yang pucat pasi, separuh ingin menangis. Sedang suami, belum juga tampak di ruangan pemeriksaan itu, hanya mama, yang tetap memberikan semangat lewat tatapan matanya, meyakinkan. Kaki saya langsung lemas, dokter menatap saya, kemudian memandang monitor USG kembali. Setelah itu katanya, “ Yah, sudahlah coba kita usahakan semaksimal mungkin ya, Bu, kita pertahankan janin ini, tapi semua kuasa Tuhan, dialah yang akan menentukan.” Pikiran langsung melayang pada satu tahun silam, sama persis ketika dokter mengatakan saya keguguran, waktu mengandung Kresno. Tapi Keinginan yang kuat dan kemauan untuk terus mempertahankan hingga mati-matian bed rest total selama hampir 8 bulan. Ikhtiar dan juga doa yang tak henti-henti, ditambah semangat terbesar yang pernah ada, membawa Kresno menjadi milik saya, Allah memberikan saya kesempatan untuk memilikinya, memberikan jawaban terindah atas doa panjang saya diatas tempat tidur selama 8 bulan. 8 bulan dalam keinginan kuat untuk merawatnya. Keinginan itu juga yang membuat saya mengikhlaskan segalanya termasuk rela melepas pekerjaan jika kemudian saya dipecat. Ah, sekali lagi Allah tetap memberikan jawaban terindah saat itu, saya tidak jadi dipecat, bahkan masih dipercaya untuk menempati berberapa posisi strategis di Kantor. Allahuakbar !. Tapi kini saya begitu lemah, merasa jadi Ibu paling brengsek, karena saya kurang memiliki semangat, kemauan, dan juga keinginan kuat untuk mempertahankannya seperti dulu, saya terlalu lelah, dikalahkan oleh ketakutan duniawi saya. Ah, saya dikalahkan oleh setan, dikalahkan oleh tetak bengek kantor yang memuakkan. Ya, Allah saya kalah, kali ini air mata saya mengalir deras, rasa stress membawa saya makan sebanyak-banyaknya. Mama yang melihat tetap memberikan support, memberikan sumbangan kekuatan keyakinan, yang kala itu tidak setetespun saya miliki. “Anak ini pasti baik-baik saja, jangan kuatir, serahkan semua pada Allah Wi” begitu katanya berulang-ulang. Sedang perasaan saya sebagai calon ibunya mengatakan lain, dia bukan milik saya, Ya, Allah, saya merasa dia bukan milik saya. Bedrest total saya dirumah selama seminggu (dengan meminta cuti dari kantor), rasanya percuma. Selasa, 15 Juli 2008 Genap 1 minggu 1 hari saya semi bedrest dirumah, walaupun dokter sudah menganjurkan bedrest total, namun keadaan tidak bisa dikendalikan sehingga saya harus setengah bedrest. Apalagi Ibu harus pulang ke Jakarta, dan suami bertugas di luar kota, tidak ada tempat berbagi dan penghibur membuat saya lebih terpuruk, berfikiran sempit dan malas. Kedua anak saya, terlalu berat saya abaikan hanya dengan bedrest total. Apalagi cobaan datang lagi, ketika si kecil sakit gejala radang paru-paru. Membuat saya tidak kuasa mempertahankan kehamilan saya. Pagi itu di ruang USG dalam, dokter memutuskan untuk meng-kuret saya, karena kantung kehamilannya sudah sangat memanjang, dan mulai keluar di jalan kelahiran. Dokter mengkhawatirkan beberapa genetik yang dibawa oleh janin dari kedua orang tuanya sempat hilang ketika saya terus-menerus pendarahan dan ikut terbawa darah yang keluar. Masalah ini membuat saya semakin ciut, membuat saya semakin ingin menangis sekeras-kerasnya. Betapa bodohnya saya, yang kurang niat untuk mempertahankannya. Suami yang saya kabari, di kantornya, bergegas menuju rumah sakit. Tepat pukul 14.30 Wib, proses operasi kecil / kuret berlangsung. Alhamdulillah semua lancer dan setelah masa penyembuhan tiga hari, saya merasa lebih sehat, hanya hati dan pikiran saya yang masih sakit. Suami mensholatkan janin mungil berusia 2 bulan itu, memberinya nama dan menguburkannya di belakang rumah. Walaupun dia belum hadir di dunia, dia tetap anak ketiga kami, sekalipun tidak bisa kami peluk, tapi tawanya masih bisa saya rasakan, kenangan akan glitikan-glitikan mesra dirahim, masih sulit dihilangkan. Ya, Allah, betapa sakitnya kehilangannya……!. Innalillahi Wa Ina’Ilaihi Rojiun.
CATATAN KEHAMILAN KETIGA (PART II) Yulyani Dewi, 7 Juli 2008 3 JULI 2008 Memasuki bulan ke 2 Anakku bukan karena Mama tak sayang Bukan pula Karena egois Tapi ini adalah janji tugas yang harus Mama tuntaskan Karena ini mengenai tanggung jawab Karena ini mengenai menerima konsekuensi dari pekerjaan yang sudah dibebankan Tapi usaha untuk kebaikan bersama sudah Mama lakukan, termasuk obat dan dokter yang terbaik Jika engkau masih menyayangi Mama, ayolah bertahan dan Bantu Mama berjuang. Kegugurankah saya ? Pagi hari ini, rasa penat terus melanda, punggung sakit, perut kembung, dan kontraksi-kontraksi kecil dalam rahim. Perasaan mulai tidak enak dan gelisah sepanjang pagi ini, menjelang keberangkatan ke Metropole Hotel, Kota Batu. Perut mulas ingin kebelakang. Ketika selesai menunaikan hajat, nyeri dipinggang ternyata pertanda buruk, lima menit menuju ke kantor, ada sesuatu yang membuat saya lemas. Ah…darah segar mengalir, walaupun volumenya hanya sedikit, tapi cukup membuat cemas. Kegugurankah saya ? Terjebak Lapindo Brantas Menjelang tugas ke Batu pikiran masih melayang pada genangan darah di pembalut yang saya kenakan. Ah…rupanya, si kecil yang sudah terlanjur saya sayang, belum menjadi rejeki saya, kali ini !. Diam-diam didalam kendaraan saya menangis, air mata menetes dalam hening. Tiba disana harus segera bekerja mempersiapkan acara yang akan digelar, beberapa hal terkait simulasi, hingga melimpahkan sebagian tugas berat kepada kawan yang ada disana, mencoba meminta pengertian, lewat tatapan mata. Alhamdulillah mereka paham. Hari ini semua hidangan saya makan dengan lahap. Dengan harapan engkau masih bertahan di sana, disudut ruang rahim yang lemah. Menghabiskan sebagian waktu selesai acara dengan berbaring dalam tangis dan mengelus perut yang kian kencang karena kontraksi berkali-kali. “Ah….sayang jangan pergi, tunggu Mama segera pulang !” “Akan Mama rawat engkau kembali, pada dokter terbaik di kota ini”. Mengadu pada suami Suami yang menunaikan tugas nun jauh disana, mendengarkan dengan sabar segala keluh kesah. Suami sedih tapi tidak larut, saya tahu dia memahami bahwa kesedihan saya melebihi dirinya. Menghibur saya, dengan mengatakan, “Biarlah dia pergi sayang !”. “Mungkin belum rejeki kita”. PERIKSA SEGERA ! 4 Juli 2008 Pukul 21.00 Wib, janji dengan dokter. Ternyata dokternya masih siaran langsung di televisi lokal. Walahhhh !. Pinggang masih luar biasa nyeri, membuat lemas sekujur tubuh. Menunggu hingga 1 jam setengah. Menunggu dengan cemas !. Hanya bisa mengeluh kepada-Nya “Allah, kapan ini berakhir !” Tambah sedih karena ke dokter malam itu hanya ditemani si Sulung Bimo dan Sopir, sedang suami sibuk menunaikan tugas diluar kota. Menit-menit menunggu giliran, menjelang pemeriksaan Dzikir Rasulullah terus terapal “Hasubhannalhi Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Natzir “ Tiba giliran dipanggil, jantung tambah berdegup kencang. Menimbang berat badan di timbangan digital dengan gemetar, kebetulan lagi timbangan berat badan digital sedang rusak, hingga beberapa menit menunggu diperbaiki. Waktu berjalan kian lambat, dan pikiran melayang entah kemana. Ketika di USG rapalan Dzikir kembali bergema dalam batin. Hingga dokter berkata “Rahimnya memang penuh darah ini, tapi kantung kehamilannya tetap dan masih utuh, Inshaallah janinnya tidak apa-apa” Ada keterkejutkan juga kegembiraan sepintas, namun warning dokter membuat saya tak dapat bernafas lega. “Ibu harus tetap hati-hati, dan banyak bed rest ya bu !, walaupun tidak tetap. Resep dokter - Dupaston tambah 2 kali sehari selama dua minggu - Folavit vitamin tambah untuk 2 minggu - Fladen sup 1 kali 1 tablet sehari diberi 5 tablet (untuk pereda kontraksi) Untuk obat yang ini minta ampun susah nyarinya, hingga terpaksa, harus menukar dengan obat sejenisnya Profenid Motivasi suami Ketika suami pulang, saya berhambur dipelukannya, dan suami memeluk saya dalam kasih, merenda malam dengan nasehat dan motivasi pembangun. “Harus ada positive thinking, dikepalamu dik !” kata suami Harus Ikhlas dan sabar, berikan motivasi pada anakmu dalam kandungan katakan “Ibu sehat dan ibu kuat, kamu juga harus sehat dan kuat” “Pasti sehat !” kata suami lagi Saya yang terbawa haru, tergugu menangis di bahu suami, kemudian mengangguk memastikan, saya pasti kuat dan sehat. Ini anak ketiga, berarti pengalaman ketiga hamil, dan kedua dengan kehamilan bermasalah. Saya harus kuat, makan banyak, tidak boleh mikir macam-macam Karena pikiran Ibu adalah seperti doa. Supaya anak didalam kandungan juga termotivasi untuk sehat, untuk kuat, agar bisa selincah kakak-kakaknya. Tetap kerja, harus, karena terikat kontrak, tapi harus ekstra hati-hati tidak boleh terlalu berlalu cepat dan lincah. “Lebih kalem dan anggun”, kata suami :P “Eh, siapa tahu cewek khan !” Kata suami lagi sambil mengerling. Ada perasaan lega sekaligus terhibur mendengar kata-katanya. Malam ini tertidur pulas dipelukannya :P. Sst…dan mohon doa untuk seluruh sahabat, teman, saudara, keluarga dekat, tetangga, dan kolega. Yang sempat membaca tulisan ini. Doakan agar saya kuat, bayi saya sehat dan sempurna tidak kurang suatu apapun. Amien.
Daya juang pengasuh baru anakKU Yulyani Dewi, 2 Juli 2008 Pertama kali mendengar kata daya juang, adalah dari seorang sahabat lama dari mulai kuliah dulu,kebetulan kami masih Japri via chating (YM- you are is the best ^_^). Dia mengeluh mengenai kurangnya daya juang pada orang-orang disekelilingnya termasuk teman seperjuangan suaminya, yang kebetulan kurang mampu, hingga harus berhutang kesana kemari, entah karena gengsi/malu atau malas tidak mau mengurus kartu taskin, pokoknya yang bikin tambah runyam temannya itu tidak memiliki daya juang hingga harus menopang dagu demi menunggu gililran bantuan dari beberapa teman yang rajin memberikan hutangan atau terpaksa memberikan hutangan karena ikatan pertemanan. Dan ketika ditagih hutang, jawaban sang teman yang rendah daya juangnya ini selalu sama, yaitu “Dari mana aku mendapatkan uang ?”. Kalau sudah begitu beragam omelan hanya mampir dikuping kirinya kemudian tembus ke kuping kanannya. Omelan dari mulai “Kamu harus kerja dong, apa saja yang penting halal” atau “Kamu harus kreatif dong, kasihan khan anak-anakmu ?” Yang paling parah ketika si sulung anaknya terpaksa harus turun ke jalan jualan, Koran di perempatan jalan, untuk menopang ekonomi keluargannya, yang berada di tangan bapak pemalas (mohon maaf karena ini kenyataannya, orang yang memiliki daya juang rendah tak ubahnya seorang pemalas dan pecundang yang hanya akan menemukan titik terendah dalam level kehidupan). Kisah ini berbeda 360 derajat dengan kisah yang terjadi pada pengasuh baru anak saya yang kedua, Kresno. Pertama kali mengenalnya, saya pesimis dia bisa menaklukkan Kresno. Badannya yang mungil dan kurus, wajahnya yang baby face, dan juga kulitnya yang gelap sungguh diluar bayangan saya terhadap sosok seorang pengasuh atau “baby sister”, mata saya segera saja bergerak penuh selidik, dari mulai menatap matanya (mata khan jendela hati hehehe) hingga gaya bicaranya, dan beberapa wawancara singkat. Dari hasil uji nyali tersebut itu saya semakin pesimis dia bisa menaklukan jagoan kecil saya. Dengan tubuh gempal dan berat 14 kg di usia 19 bulan, yang tidak saja membuat pengasuh barunya kewalahan, |
|